Jumat, 15 Maret 2013

DEFINISI RELIGI / AGAMA

DEFINISI RELIGI/AGAMA



1.        Religi
a.         Pengertian Religi
Secara bahasa, kata religi adalah kata kerja yang berasal dari kata benda religion. Religi itu sendiri berasal dari kata re dan ligare artinya menghubungkan kembali yang telah putus, yaitu menghubungkan kembali tali  hubungan antara Tuhan dan manusia yang telah terputus oleh dosa-dosanya (Mubarok, 2003:45). Menurut Gazalba (Rohilah,2010), bahwa religi berasal dari bahasa latin religio yang berasal dari akar kata religare yang berarti mengikat. Religi adalah kecenderungan rohani manusia untuk berhubungan dengan alam semesta, nilai yang meliputi segalanya, makna yang terakhir, dan hakekat dari semuanya. Sedangkan Sarwono (2006) mendefinisikan religi sebagai suatu kepercayaan terhadap kekuasaan suatu zat yang mengatur alam semesta ini.
Istilah religi menunjukkan pada aspek religi  yang telah dihayati oleh individu dalam hatinya (Mangunwijaya dalam Sudrajat, 2010). Dister (Sudrajat, 2010) menyatakan bahwa di dalam religi terdapat unsur internalisasi agama dalam diri individu. Definisi lain menyatakan bahwa religi merupakan perilaku terhadap agama yang berupa penghayatan terhadap nilai-nilai agama yang dapat ditandai tidak hanya melalui ketaatan dalam menjalankan ibadah ritual tetapi juga dengan adanya keyakinan, pengamalan, dan pengetahuan menganai agama yang dianutnya (Ancok dan Suroso, 2008).
Glock dalam Paloutzian (Sudrajat, 2010) menyebut bahwa religi meupakan sebuah komitmen beragama, yang dijadikan sebagai kebenaran beragama, apa yang dilakukan seseorang sebagai bagian dari kepercayaan, bagaimana emosi atau pengamalan yang disadari   seseorang   tercakup   dalam   agamanya,   dan   bagaimana seseorang hidup dan terpengaruh berdasarkan agama yang dianutnya.
Terdapat dua istilah yang dikenal dalam agama yaitu kesadaran beragama (religious conciousness) dan pengalaman beragama (religious experience). Kesadaran beragama adalah segi agama yang terasa dalam fikiran dan dapat diuji melalui introspeksi atau dapat dikatakan sebagai aspek mental dari aktivitas agama, sedangkan pengalaman beragama adalah unsur perasaan dalam kesadaran beragama yaitu perasaan yang membawa kepada keyakinan yang dihasilkan oleh tindakan (Drajat, 1989).
Dapat ditarik kesimpulan bahwa religi adalah internalisasi dan penghayatan seorang individu terhadap nilai-nilai agama  yang diyakini dalam bentuk ketaatan dan pemahaman terhadap nilai-nilai tersebut untuk kemudian dapat diimplentasikan dalam perilaku sehari-hari. Sehingga tingkat religi seseorang dapat dilihat dari tingkah laku,  sikap,  dan  perkataan,  serta  kesesuaian  hidup  yang  dijalani dengan ajaran agama yang dianutnya.
b.         Dimensi Religi
Menurut R.Stark dan C.Y. Glock (Ancok dan Suroso, 2008) religi (religiosity) meliputi lima dimensi yaitu keyakinan beragama (beliefs), praktik keagamaan (practice), rasa keberagamaan (feelings), pengetahuan agama (knowledge), dan konsekuensi (effect) dari keempat dimensi tersebut.
1)        Keyakinan beragama (beliefs) adalah kepercayaan atas  doktrin teologis, seperti percaya terhadap adanya Tuhan, malaikat, hari akhirat, surga, neraka, takdir,dan lain-lain (Djarir, 2005). Ancok dan Surosa (2008) menyatakan bahwa orang religi berpegang teguh pada pandangan teologis tertentu dan mengakui kebenaran doktrin-doktrin tersebut. Indikator dari dimensi keyakinan adalah:
a)        Keyakinan tentang Allah
b)        Keyakinan tentang malaikat Allah
c)        Keyakinan tentang kitab-kitab Allah
d)       Keyakinan tentang Nabi/Rasul Allah   
e)        Keyakinan tentang hari akhir
f)         Keyakina tentang qadha dan qadar Allah
g)        Keyakinan tentang syurga dan neraka
2)      Praktik  agama  (practice)  merupakan  dimensi  yang  berkaitan dengan seperangkat perilaku yang dapat menunjukkan seberapa besar komitmen seseorang terhadap agama yang diyakininya (Ancok dan Suroso, 2008). Indikator dari dimensi ini adalah :
a)        Melaksanakan shalat wajib dan shalat sunnah
b)        Melaksanakan puasa wajib maupun sunnah
c)        Menunaikan zakat, infak, dan shodaqoh
d)       Melakasanakan haji dan umrah
e)        Membaca Al-Quran
f)         Membaca doa dan dzikir
g)        Melakukan I’tikaf di bulan ramadhan
3)        Rasa/pengalaman keberagamaan (feelings) adalah dimensi yang berkaitan dengan pengalaman keagamaan, perasaan-perasaan, persepsi-persepsi,  dan  sensasi-sensasi  yang  dialami  oleh seseorang    perasaan yang dialami oleh orang beragama, seperti rasa tenang, tenteram, bahagia, syukur, patuh, taat, takut, menyesal, bertobat, dan lain-lain. Menurut Ancok (Syachraeni,2010), dalam kacamata Islam dimensi ini berkaitan dengan pengalaman-pengalaman yang unik dan yang merupakan keajaiban. Contohnya, doa yang dikabulkan, diselamatkan dari suatu bahaya, dan lain-lain. Indikator dari dimensi ini adalah :
a)        Perasaan dekat dengan Allah
b)        Perasaan doa-doanya terkabul
c)        Perasaan tentram bahagia karena menuhankan Allah
d)       Perasaan bertawakal kepada Allah
e)        Persaan khusyuk ketika melaksanakan shalat dan berdoa
f)         Perasaan bergetar ketika mendengar adzan atau ayat-ayat Al- Quran
g)        Perasaan bersyukur kepada Allah
h)        Perasaan mendapatkan peringatan atau pertolongan dari Allah.
4)        Pengetahuan agama (knowledge) merupakan dimensi yang mencakup informasi yang dimiliki seseorang mengenai keyakinannya. Ancok dan Suroso (2008) mengatakan bahwa dimensi pengetahuan berkaitan erat dengan keyakinan, karena pengetahuan mengenai suatu keyakinan adalah syarat bagi penerimaannya. Indikator dari dimensi ini adalah :
a)        Pengetahuan tentang isi Al-Quran
b)        Pokok-pokok    ajaran    Islam    yang    harus    diimani    dan dilaksanakan
c)        Pengetahuan tentang hukum-hukum Islam
d)       Pengetahuan tentang sejarah Islam
e)        Mengikuti aktivitas untuk menambah pengetahuan agama.
5)        Konsekuensi keberagamaan (effect) merupakan dimensi yang mengacu pada identifikasi akibat-akibat keyakinan keagamaan, praktik, pengalaman, dan  pengetahuan seseorang dalam kehidupan sehari-hari (Ancok dan Suroso, 2008). Dimensi konsekuensi ini mestinya merupakan kulminasi dari dimensi lain. Menurut Ancok (Syachraeni, 2010), dalam Islam dimensi ini memiliki arti sejauh mana perilaku seseorang dalam kehidupan sehari-hari didorong oleh ajaran agama. Kenyataannya dimensi itu tidak selalu lengkap ada pada seseorang, sedangkan sikap, ucapan dan tindakan seseorang tidak selalu atas dorongan ajaran agama. Indikatir dari dimensi ini adalah :
a)        Suka menolong
b)        Suka bekerjasama
c)        Suka menyumbangkan sebagian harta
d)       Memiliki rasa empati dan solidaritas kepada orang lain
e)        Berperilaku adil
f)         Berperilaku jujur
g)        Suka memaafkan
h)        Menjaga lingkungan hidup
i)          Menjaga amanah
j)          Tidak berjudi, menipu, dan korupsi
k)        Mematuhi norma-norma Islam dalam berperilaku
Berdasarkan paparan diatas, dapat dikatakan bahwa dimensi religi terdiri dari 5 yaitu: kepercayaan seseorang terhadap ajaran agama (beliefs), pelaksanaan ajaran agama dalam bentuk praktek ibadah-ibadah ritual (practice), kepahaman seseorang terhadap nilai- nilai dan ajaran agama yang dianutnya d(knowledge), pengalaman- pengalaman agama yang dirasakan oleh seseorang (experience), dan pengaruh dari kepercayaan, pelaksanaan, kepahaman, dan pengalaman tentang agama terhadap sikap, ucapan, dan perilaku seseorang yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari (effect).
c.         Faktor-faktor yang  mempengaruhi religi
Secara  umum  religi  dipengaruhi  oleh  dua  faktor  yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor-faktor yang berkaitan dengan pembawaan, sedangkan faktor eksternal faktor- faktor yang berasal dari lingkungan di luar diri individu seperti keluarga, sekolah, dan masyarakat (Yusuf, 2007).
1)        Faktor Internal
Thouless (Marsal dalam Sudrajat, 2010) menyebutkan bahwa faktor internal yang dapat mempengaruhi sikap keagamaan seseorang yaitu faktor pengalaman dan kebutuhan.Faktor pengalaman berkaitan dengan pengalaman- pengalaman  mengenai  keindahan,  konflik  moral,  dan pengalaman emosional keagamaan. Sedangkan faktor kebutuhan berkaitan dengan kebutuhan rasa aman dan keselamatan, kebutuhan akan cinta kasih, kebutuhan untuk memperoleh harga diri, dan kebutuhan yang timbul karena adanya kematian.
2)        Faktor eksternal
Faktor eksternal yang dapat mempengaruhi religi seseorang meliputi
a)      Lingkungan keluarga
Glock and Stark (Sudrajat, 2010) menyatakan bahwa fase sosialisasi awal bagi pembentukan konsep religi seseorang   adalah   keluarga.   Selain   itu,   Sigmund   Freud (Boeree dalam Sudrajat, 2010) melalui konsep father imege menjelaskan bagaimana citra seorang ayah akan mempengaruhi  perkembangan  religi  anaknya. Sehingga, dapat dikatakan bahwa keluarga sangat memegang peranan  penting dalam  menentukan bagaimana  religi seseorang.
b)      Lingkungan sekolah
Sekolah mempunyai peranan penting dalam upaya pengembangan religi siswanya. Upaya pengembangan tersebut berkaitan dengan wawasan pemahaman siswa terhadap agama, pembiasaan mengamalkan ibadah, dan mendidik siswa agar berakhlak yang baik dan dapat mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari- hari. Terdapat tiga hal penting dalam pendidikan formal yang mempengaruhi religi yaitu kurikulum, hubungan guru dan siswa, serta hubungan antarsiswa.
c)      Lingkungan masyarakat
Masyarakat merupakan lingkungan interaksi sosial dan sosiokultural   yang   potensial   mempengaruhi   religi seseorang. Seseorang akan cenderung menampilkan perilakunya sesuai  dengan  lingkungan pergaulannya. Thouless (Marsal dalam  Sudrajat,  2010)  berpendapat  bahwa  tradisi-tradisi sosial yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan dan tekanan lingkungan untuk menyesuaikan diri dengan berbagai sikap yang disepakati oleh lingkungan dapat mempengaruhi religi seseorang. Berdasarkan hal diatas, dapat disimpulkan  bahwa  kualitas  religi  seseorang  dapat dilihat dari bagaimana orang-orang di sekitarnya.
2.        Makna pergeseran nilai-nilai religi
"Pengertian pergeseran menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah peralihan, perpindahan" (Depdikbut,2007:361). Pergeseran merupakan suatu perubahan secara sedikit demi sedikit atau berkala pada seseorang yang di pengaruhi oleh perkara lain yang mengkibatkan perubahan pandangan hidup seseorang.
Nilai adalah sifat-sifat atau hal-hal yang penting atau berguna bagi kemanusiaan (Depdikbut,2007:783). Nilai merupakan suatu yang berharga, bermutu, menunjukkan kualitas, dan berguna bagi manusia. Sesuatu itu bernilai berarti itu berharga atau berguna bagi kehidupan manusia.
Religi atau religi adalah lebih melihat aspek yang "di dalam lubuk hati", riak getaran hati nurani pribadi; sikap personal yang sedikit banyak misteri bagi orang lain, karena menapaskan intimitas jiwa, "du Coeur" dalam arti Pascal, yakni cita rasa yang mencakup totalitas (termasuk rasio dan rasa manusiawi) ke dalam si pribadi manusia ( Mangunwijaya,1982:11).
Dari ketiga pernyataan di atas penulis menyimpulkan bahwa pergeseran nilai-nilai religi adalah berubahnya pandangan manusia terhadap apa yang diyakini secara sedikit demi sedikit yang dipengaruhi oleh perkara lain sehingga terjadinya perubahan pandangan manusia.

Kamis, 08 November 2012

T13 EPSON MATI TOTAL

Kasus : mati total
Identifikasi : Dioda mati
Penanganan : ganti Dioda dengan yang baru (perlu diingat DIODA yang Dipakai adalah DIODA ZENER dengan kode SB60 atau yang di pasaran SB160) andaipun diganti dengan dioda biasa 1 amper mainboard bisa hidup cuma bisa bertahan 1 hari saja setelah itu akan mati lagi dengan kondisi power suply printer berbunyi tit tit berulang kali

Rabu, 14 September 2011

ipunk

NOVEL DEFINISI

Sastra pada dasarnya merupakan ciptaan, sebuah kreasi bukan semata - mata sebuah imitasi (dalam Luxemburg, 1989: 5). Karya sastra sebagai bentuk dan hasil sebuah pekerjaan kreatif, pada hakikatnya adalah suatu media yang mendayagunakan bahasa untuk mengungkapkan tentang kehidupan manusia. Oleh sebab itu, sebuah karya sastra, pada umumnya, berisi tentang permasalahan yang melingkupi kehidupan manusia. Kemunculan sastra lahir dilatar belakangi adanya dorongan dasar manusia untuk mengungkapkan eksistensi dirinya. (dalam Sarjidu, 2004: 2).
Biasanya kesusastraan dibagi menurut daerah geografis atau bahasa. Jadi, yang termasuk dalam kategori Sastra adalah: Novel cerita/cerpen (tertulis/lisan), syair, pantun, sandiwara/drama, lukisan/kaligrafi.
Novel adalah salah satu bentuk dari sebuah karya sastra. Novel merupakan cerita fiksi dalam bentuk tulisan atau kata-kata dan mempunyai unsur instrinsik dan ekstrinsik. Sebuah novel biasanya menceritakan tentang kehidupan manusia dalam berinteraksi dengan lingkungan dan sesamanya. Dalam sebuah novel, si pengarang berusaha semaksimal mungkin untuk  mengarahkan pembaca kepada gambaran-gambaran realita kehidupan melalui cerita yang terkandung dalam novel tersebut.
Menurut khasanah kesusastraan Indonesia modern, novel berbeda dengan roman. Sebuah roman menyajikan alur cerita yang lebih kompleks dan jumlah pemeran (tokoh cerita) juga lebih banyak. Hal ini sangat berbeda dengan novel yang lebih sederhana dalam penyajian alur cerita dan tokoh cerita yang ditampilkan dalam cerita tidak terlalu banyak.


1.        Novel
a.         Pengertian novel
Novel berasal dari bahasa Italia novella, yang dalam bahasa Jerman Novelle, dan dalam bahasa Yunani novellus. Kemudian masuk ke Indonesia menjadi novel. Dewasa ini istilah novella dan novella mengandung pengertian yang sama dengan istilah Indonesia novel (Inggris :novelette), yang berarti sebuah karya prosa fiksi yang panjangnya cakupan, tidak terlalu panjang, namun juga tidak terlalu pendek. Novel merupakan karya fiksi yang mengungkapkan aspek-aspek kemanusiaan yang lebih mendalam dan disajikan dengan halus 
Novel menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang  dengan  orang disekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelakunya. Dalam The American Colage, dikatakan bahwa novel adalah suatu cerita fiksi dengan panjang tertentu, melukiskan para tokoh, gerak serta adegan kehidupan nyata representative dalam suatu alur atau suatu kehidupan yang agak kacau atau kusut. Novel merupakan bentuk karya sastra yang paling popular di dunia. Bentuk sastra ini paling banyak beredar, lantaran daya komunikasinya yangn luas pada masyarakat. Banyak sastrawan yang memberi batasan atau definisi novel. Batasan atau definisi yang mereka berikan berbeda – beda karena sudut pandang yang mereka pergunakan juga berbeda – beda karena sudut pandang yang mereka pergunakan juga berbeda – beda. Definisi – definisi itu antara lain adalah sebagai berikut :
1.      Novel adalah bentuk sastra yang paling populer di dunia. Bentuk sastra ini paling banyak dicetak dan paling banyak beredar, lantaran daya komunitasnya yang luas pada masyarakat (Jakob Sumardjo Drs)
2.      Novel adalah bentuk karya sastra yang didalamnya terdapat nilai-nilai budaya, sosial, moral, dan pendidikan ( Dr. Nurhadi, Dr. Dawud, Dra. Yuni Pratiwi, M.Pd, Dra. Abdul Roni, M.Pd )
3.      Novel merupakan karya sastra yang mempunyai dua unsur, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik, dan keduanya saling berhubungan karena sangat berpengaruh dalam kehadiran sebuah karya sastra ( Drs. Rostamaji, M.Pd, Agus Priantoro, S.Pd )
4.      Novel adalah karya sastra yang berbentuk prosa yang mempunyai unsur-unsur intrinsik ( Paulus Tukam, S.Pd )
b.         Karakteristik novel
Karakteristik novel Indonesia ada sedikit perbedaan antara roman, novel dan cerpen. Ada juga yang disebut novellet. Dalam roman biasanya kisah berawal dari tokoh lahir sampai dewasa kemudian meninggal, roman biasanya mengikuti aliran romantic. Sedangkan novel berdasarkan realisme, dan di dalam novel penggambaran tokoh biasanya merupakan sebagian dari hidupnya yang dapat berubah dari keadaan sebelumnya. Berbeda dengan cerita pendek yang tidak berkepentingan pada kesempurnaan cerita atai keutuhan sebuah cerita, tetapi lebih berkepentingan pada impresi atau kesan.
Karakteristik novel Indonesia meliputi empat periode antara lain Angkatan Balai Pustaka, Angkatan Pujangga Baru, Angkatan 45 dan Angkatan sesudah 45.
c.         Ciri-ciri novel
Novel adalah salah satu karya fiksi berbentuk prosa. Ciri-ciri antara lain :
1)        Ditulis dengan gaya narasi, yang terkadang dicampur deskripsi untuk menggambarkan suasana
2)        Bersifat realistis, artinya merupakan tanggapan pengarang terhadap situasi lingkungannya
3)        Bentuknya lebih panjang, biasanya lebih lebih dari 10.000 kata
4)        Alur ceritanya lebih kompleks
d.        Unsur-unsur novel
Novel mempunyai unsur-unsur yang turut membangun novel menjadi cerita yang menarik, unsur tersebut dibagi menjadi 2 ( dua ) yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik.
1)        Unsur Intrinsik
Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur  inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra. Unsur intrinsic sebuah novel adalah unsur-unsur  yang (secara langsung) turut serta membangun cerita. Kepaduan berbagai unsur intrinsic inilah yang membuat sebuah novel berwujud. Atau sebaliknya, jika dilihat dari sudut pandang pembaca, unsur-unsur (cerita) inilah yang akan dijumpai jika kita membaca sebuah novel. Unsur yang dimaksud dalam sebuah novel terdiri dari :
(a)      Tema
Tema dipahami sebagai gagasan (ide) utama atau makna utama sebuah tulisan. Tema adalah sesuatu yang menjadi dasar cerita. Ia selalu berkaitan dengan berbagai pengalaman kehidupan, seperti masalah cinta, kasih, rindu, maut, religi dan sebagainya
(b)     Setting / latar
Latar atau setting adalah penggambaran suatu tempat dan waktu serta suasana terjadinya peristiwa. Latar tidak hanya sebagai background saja, tetapi juga dimaksudkan untuk mendukung unsur cerita lainnya. Penggambaran tempat, waktu dan situasi akan membuat cerita tampak lebih hidup logis, juga untuk menciptakan suasana tertentu yang dapat menggerakkan perasaan dan emosi pembaca.
(c)      Penokohan
Penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Penokohan mencakup masalah siapa tokoh cerita, bagaimana perwatakannya, bagaimana penempatan dan pelukisannya dalam sebuah cerita sehingga sanggup memberikan gambaran  yang jelas kepada pembaca.
Berdasarkan perbedaan sulit pandang dan tinjauan, seorang tokoh dapat dikategorikanm ke dalam beberapa jenis, yaitu:
(1)      Tokoh utama
Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam novel yang bersangkutan
(2)      Tokoh Protagonis
Tokoh protagonis adalah tokoh yang kita kagumi yang merupakan pengejawantahan norma-norma, nilai-nilai, yang ideal bagi kita
(3)      Tokoh Protagonis
Tokoh antagonis merupakan tokoh penyebab terjadinya konflik dalam sebuah cerita
(4)      Tokoh sederhana
Tokoh sederhana adalah tokoh yang hanya memiliki satu kualitas peribadi tertentu, satu sifat watak yang tertentu saja
(5)      Tokoh bulat ( kompleks )
Tokoh bulat ( kompleks ) adalah tokoh yang memiliki dan diungkap berbagai kemungkinan sisi kehidupannya, sisi kepribadian dan jati dirinya
(6)      Tokoh Statis
Tokoh Statis memiliki sikap dan watak yang relatif tetap , tak berkembang, sejak awal sampai akhir cerita
(7)      Tokoh Berkembang
Tokoh berkembang adalah tokoh cerita yang mengalami perubahan dan berkembang perwatakan sejalan dengan perkembangan serta perubahan peristiwa dan plot yang dikisahkan
(8)      Tokoh Tipikal
Tokoh Tipikal adalah tokoh yang hanya sedikit ditampilkan keadaan individualitasnya dan lebih banyak ditonjolkan kualitas  pekerjaan atau kebangsaan. Tokoh ini merupakan penggambaran pencerminan atau penunjukkan terhadap orang atau sekelompok orang yang terikat dalam sebuah lembaga, atau seorang individu sebagai bagian dari lembaga yang ada di dunia nyata
(9)      Tokoh Netral
Tokoh Netral adalah tokoh cerita yang bereksistensi demi cerita itu sendiri. Ia benar – benar merupakan tokoh imajiner, yang hanya hidup dan bereksistensi dalam dunia fiksi, Ia hadir semata – mata demi cerita, atau bahkan dialah yang empunya cerita, pelaku cerita  dan diceritakan
(10)  Tokoh Tambahan
Tokoh lain dalam cerita selain tokoh utama
(d)     Alur / plot
Alur / plot merupakan rangkaian peristiwa dalam novel. Alur dibedakan menjadi 2 bagian, yaitu alur maju (progresif) yaitu apabila peristiwa bergerak secara bertahap berdasarkan urutan kronologis menuju alur cerita. Sedangkan alur mundur  (flash back progresif) yaitu terjadi ada kaitannya dengan peristiwa yang sedang berlangsung.
(e)      Sudut pandang
Sudut pandang ( point of view ) merupakan strategi, teknik, siasat yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya. Sudut pandang dibagi menjadi 3 yaitu :
(1)          Sudut Pandang orang pertama : "Aku"
Pengarang menggunakan sudut pandang tokoh dan kata ganti orang pertama, mengisahkan apa yang terjadi dengan dirinya dan mengungkapkan perasaannya sendiri dengan kata – katanya sendiri
(2)          Sudut Pandang orang ketiga : "Dia"
Pengarang menggunakan sudut pandang tokoh bawahan, ia lebih banyak mengamati dari luar daripada terlibat di dalam cerita, pengarang biasanya menggunakan kata ganti orang ketiga
(3)          Sudut pandang campuran
Pengarang menggunakan sudut pandang impersonal, ia sama sekali berdiri di luar cerita, Ia serba melihat, serba mendengar dan serba tahu. Ia melihat sampai ke dalam pikiran tokoh  dan mampu mengisahkan  rahasia batin yang paling dalam dari tokoh
2)        Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra. Atau secara lebih khusus ia dapat dikatakan sebagai unsur-unsur yang mempengaruhi bangun cerita sebuah karya sastra, namun ia sendiri tidak ikut menjadi bagian di dalamnya. Walau demikian, unsur ekstrinsik cukup berpengaruh (untuk dikatakan : cukup menentukan) terhadap totalitas bangun cerita yang dihasilkan. Oleh karena itu, unsur ekstrinsik sebuah novel haruslah tetap di pandang sebagai sesuatu yang penting.
Unsur ini meliputi latar belakang penciptaan, sejarah, biografi pengarang, dan lain-lain di luar unsur instrinsik. Perhatian terhadap unsur-unsur ini akan membantu keakuratan penafsiran isi suatu karya sastra.

semoga bisa memabantumu