Jumat, 15 Maret 2013

DEFINISI RELIGI / AGAMA

DEFINISI RELIGI/AGAMA



1.        Religi
a.         Pengertian Religi
Secara bahasa, kata religi adalah kata kerja yang berasal dari kata benda religion. Religi itu sendiri berasal dari kata re dan ligare artinya menghubungkan kembali yang telah putus, yaitu menghubungkan kembali tali  hubungan antara Tuhan dan manusia yang telah terputus oleh dosa-dosanya (Mubarok, 2003:45). Menurut Gazalba (Rohilah,2010), bahwa religi berasal dari bahasa latin religio yang berasal dari akar kata religare yang berarti mengikat. Religi adalah kecenderungan rohani manusia untuk berhubungan dengan alam semesta, nilai yang meliputi segalanya, makna yang terakhir, dan hakekat dari semuanya. Sedangkan Sarwono (2006) mendefinisikan religi sebagai suatu kepercayaan terhadap kekuasaan suatu zat yang mengatur alam semesta ini.
Istilah religi menunjukkan pada aspek religi  yang telah dihayati oleh individu dalam hatinya (Mangunwijaya dalam Sudrajat, 2010). Dister (Sudrajat, 2010) menyatakan bahwa di dalam religi terdapat unsur internalisasi agama dalam diri individu. Definisi lain menyatakan bahwa religi merupakan perilaku terhadap agama yang berupa penghayatan terhadap nilai-nilai agama yang dapat ditandai tidak hanya melalui ketaatan dalam menjalankan ibadah ritual tetapi juga dengan adanya keyakinan, pengamalan, dan pengetahuan menganai agama yang dianutnya (Ancok dan Suroso, 2008).
Glock dalam Paloutzian (Sudrajat, 2010) menyebut bahwa religi meupakan sebuah komitmen beragama, yang dijadikan sebagai kebenaran beragama, apa yang dilakukan seseorang sebagai bagian dari kepercayaan, bagaimana emosi atau pengamalan yang disadari   seseorang   tercakup   dalam   agamanya,   dan   bagaimana seseorang hidup dan terpengaruh berdasarkan agama yang dianutnya.
Terdapat dua istilah yang dikenal dalam agama yaitu kesadaran beragama (religious conciousness) dan pengalaman beragama (religious experience). Kesadaran beragama adalah segi agama yang terasa dalam fikiran dan dapat diuji melalui introspeksi atau dapat dikatakan sebagai aspek mental dari aktivitas agama, sedangkan pengalaman beragama adalah unsur perasaan dalam kesadaran beragama yaitu perasaan yang membawa kepada keyakinan yang dihasilkan oleh tindakan (Drajat, 1989).
Dapat ditarik kesimpulan bahwa religi adalah internalisasi dan penghayatan seorang individu terhadap nilai-nilai agama  yang diyakini dalam bentuk ketaatan dan pemahaman terhadap nilai-nilai tersebut untuk kemudian dapat diimplentasikan dalam perilaku sehari-hari. Sehingga tingkat religi seseorang dapat dilihat dari tingkah laku,  sikap,  dan  perkataan,  serta  kesesuaian  hidup  yang  dijalani dengan ajaran agama yang dianutnya.
b.         Dimensi Religi
Menurut R.Stark dan C.Y. Glock (Ancok dan Suroso, 2008) religi (religiosity) meliputi lima dimensi yaitu keyakinan beragama (beliefs), praktik keagamaan (practice), rasa keberagamaan (feelings), pengetahuan agama (knowledge), dan konsekuensi (effect) dari keempat dimensi tersebut.
1)        Keyakinan beragama (beliefs) adalah kepercayaan atas  doktrin teologis, seperti percaya terhadap adanya Tuhan, malaikat, hari akhirat, surga, neraka, takdir,dan lain-lain (Djarir, 2005). Ancok dan Surosa (2008) menyatakan bahwa orang religi berpegang teguh pada pandangan teologis tertentu dan mengakui kebenaran doktrin-doktrin tersebut. Indikator dari dimensi keyakinan adalah:
a)        Keyakinan tentang Allah
b)        Keyakinan tentang malaikat Allah
c)        Keyakinan tentang kitab-kitab Allah
d)       Keyakinan tentang Nabi/Rasul Allah   
e)        Keyakinan tentang hari akhir
f)         Keyakina tentang qadha dan qadar Allah
g)        Keyakinan tentang syurga dan neraka
2)      Praktik  agama  (practice)  merupakan  dimensi  yang  berkaitan dengan seperangkat perilaku yang dapat menunjukkan seberapa besar komitmen seseorang terhadap agama yang diyakininya (Ancok dan Suroso, 2008). Indikator dari dimensi ini adalah :
a)        Melaksanakan shalat wajib dan shalat sunnah
b)        Melaksanakan puasa wajib maupun sunnah
c)        Menunaikan zakat, infak, dan shodaqoh
d)       Melakasanakan haji dan umrah
e)        Membaca Al-Quran
f)         Membaca doa dan dzikir
g)        Melakukan I’tikaf di bulan ramadhan
3)        Rasa/pengalaman keberagamaan (feelings) adalah dimensi yang berkaitan dengan pengalaman keagamaan, perasaan-perasaan, persepsi-persepsi,  dan  sensasi-sensasi  yang  dialami  oleh seseorang    perasaan yang dialami oleh orang beragama, seperti rasa tenang, tenteram, bahagia, syukur, patuh, taat, takut, menyesal, bertobat, dan lain-lain. Menurut Ancok (Syachraeni,2010), dalam kacamata Islam dimensi ini berkaitan dengan pengalaman-pengalaman yang unik dan yang merupakan keajaiban. Contohnya, doa yang dikabulkan, diselamatkan dari suatu bahaya, dan lain-lain. Indikator dari dimensi ini adalah :
a)        Perasaan dekat dengan Allah
b)        Perasaan doa-doanya terkabul
c)        Perasaan tentram bahagia karena menuhankan Allah
d)       Perasaan bertawakal kepada Allah
e)        Persaan khusyuk ketika melaksanakan shalat dan berdoa
f)         Perasaan bergetar ketika mendengar adzan atau ayat-ayat Al- Quran
g)        Perasaan bersyukur kepada Allah
h)        Perasaan mendapatkan peringatan atau pertolongan dari Allah.
4)        Pengetahuan agama (knowledge) merupakan dimensi yang mencakup informasi yang dimiliki seseorang mengenai keyakinannya. Ancok dan Suroso (2008) mengatakan bahwa dimensi pengetahuan berkaitan erat dengan keyakinan, karena pengetahuan mengenai suatu keyakinan adalah syarat bagi penerimaannya. Indikator dari dimensi ini adalah :
a)        Pengetahuan tentang isi Al-Quran
b)        Pokok-pokok    ajaran    Islam    yang    harus    diimani    dan dilaksanakan
c)        Pengetahuan tentang hukum-hukum Islam
d)       Pengetahuan tentang sejarah Islam
e)        Mengikuti aktivitas untuk menambah pengetahuan agama.
5)        Konsekuensi keberagamaan (effect) merupakan dimensi yang mengacu pada identifikasi akibat-akibat keyakinan keagamaan, praktik, pengalaman, dan  pengetahuan seseorang dalam kehidupan sehari-hari (Ancok dan Suroso, 2008). Dimensi konsekuensi ini mestinya merupakan kulminasi dari dimensi lain. Menurut Ancok (Syachraeni, 2010), dalam Islam dimensi ini memiliki arti sejauh mana perilaku seseorang dalam kehidupan sehari-hari didorong oleh ajaran agama. Kenyataannya dimensi itu tidak selalu lengkap ada pada seseorang, sedangkan sikap, ucapan dan tindakan seseorang tidak selalu atas dorongan ajaran agama. Indikatir dari dimensi ini adalah :
a)        Suka menolong
b)        Suka bekerjasama
c)        Suka menyumbangkan sebagian harta
d)       Memiliki rasa empati dan solidaritas kepada orang lain
e)        Berperilaku adil
f)         Berperilaku jujur
g)        Suka memaafkan
h)        Menjaga lingkungan hidup
i)          Menjaga amanah
j)          Tidak berjudi, menipu, dan korupsi
k)        Mematuhi norma-norma Islam dalam berperilaku
Berdasarkan paparan diatas, dapat dikatakan bahwa dimensi religi terdiri dari 5 yaitu: kepercayaan seseorang terhadap ajaran agama (beliefs), pelaksanaan ajaran agama dalam bentuk praktek ibadah-ibadah ritual (practice), kepahaman seseorang terhadap nilai- nilai dan ajaran agama yang dianutnya d(knowledge), pengalaman- pengalaman agama yang dirasakan oleh seseorang (experience), dan pengaruh dari kepercayaan, pelaksanaan, kepahaman, dan pengalaman tentang agama terhadap sikap, ucapan, dan perilaku seseorang yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari (effect).
c.         Faktor-faktor yang  mempengaruhi religi
Secara  umum  religi  dipengaruhi  oleh  dua  faktor  yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor-faktor yang berkaitan dengan pembawaan, sedangkan faktor eksternal faktor- faktor yang berasal dari lingkungan di luar diri individu seperti keluarga, sekolah, dan masyarakat (Yusuf, 2007).
1)        Faktor Internal
Thouless (Marsal dalam Sudrajat, 2010) menyebutkan bahwa faktor internal yang dapat mempengaruhi sikap keagamaan seseorang yaitu faktor pengalaman dan kebutuhan.Faktor pengalaman berkaitan dengan pengalaman- pengalaman  mengenai  keindahan,  konflik  moral,  dan pengalaman emosional keagamaan. Sedangkan faktor kebutuhan berkaitan dengan kebutuhan rasa aman dan keselamatan, kebutuhan akan cinta kasih, kebutuhan untuk memperoleh harga diri, dan kebutuhan yang timbul karena adanya kematian.
2)        Faktor eksternal
Faktor eksternal yang dapat mempengaruhi religi seseorang meliputi
a)      Lingkungan keluarga
Glock and Stark (Sudrajat, 2010) menyatakan bahwa fase sosialisasi awal bagi pembentukan konsep religi seseorang   adalah   keluarga.   Selain   itu,   Sigmund   Freud (Boeree dalam Sudrajat, 2010) melalui konsep father imege menjelaskan bagaimana citra seorang ayah akan mempengaruhi  perkembangan  religi  anaknya. Sehingga, dapat dikatakan bahwa keluarga sangat memegang peranan  penting dalam  menentukan bagaimana  religi seseorang.
b)      Lingkungan sekolah
Sekolah mempunyai peranan penting dalam upaya pengembangan religi siswanya. Upaya pengembangan tersebut berkaitan dengan wawasan pemahaman siswa terhadap agama, pembiasaan mengamalkan ibadah, dan mendidik siswa agar berakhlak yang baik dan dapat mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari- hari. Terdapat tiga hal penting dalam pendidikan formal yang mempengaruhi religi yaitu kurikulum, hubungan guru dan siswa, serta hubungan antarsiswa.
c)      Lingkungan masyarakat
Masyarakat merupakan lingkungan interaksi sosial dan sosiokultural   yang   potensial   mempengaruhi   religi seseorang. Seseorang akan cenderung menampilkan perilakunya sesuai  dengan  lingkungan pergaulannya. Thouless (Marsal dalam  Sudrajat,  2010)  berpendapat  bahwa  tradisi-tradisi sosial yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan dan tekanan lingkungan untuk menyesuaikan diri dengan berbagai sikap yang disepakati oleh lingkungan dapat mempengaruhi religi seseorang. Berdasarkan hal diatas, dapat disimpulkan  bahwa  kualitas  religi  seseorang  dapat dilihat dari bagaimana orang-orang di sekitarnya.
2.        Makna pergeseran nilai-nilai religi
"Pengertian pergeseran menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah peralihan, perpindahan" (Depdikbut,2007:361). Pergeseran merupakan suatu perubahan secara sedikit demi sedikit atau berkala pada seseorang yang di pengaruhi oleh perkara lain yang mengkibatkan perubahan pandangan hidup seseorang.
Nilai adalah sifat-sifat atau hal-hal yang penting atau berguna bagi kemanusiaan (Depdikbut,2007:783). Nilai merupakan suatu yang berharga, bermutu, menunjukkan kualitas, dan berguna bagi manusia. Sesuatu itu bernilai berarti itu berharga atau berguna bagi kehidupan manusia.
Religi atau religi adalah lebih melihat aspek yang "di dalam lubuk hati", riak getaran hati nurani pribadi; sikap personal yang sedikit banyak misteri bagi orang lain, karena menapaskan intimitas jiwa, "du Coeur" dalam arti Pascal, yakni cita rasa yang mencakup totalitas (termasuk rasio dan rasa manusiawi) ke dalam si pribadi manusia ( Mangunwijaya,1982:11).
Dari ketiga pernyataan di atas penulis menyimpulkan bahwa pergeseran nilai-nilai religi adalah berubahnya pandangan manusia terhadap apa yang diyakini secara sedikit demi sedikit yang dipengaruhi oleh perkara lain sehingga terjadinya perubahan pandangan manusia.

4 komentar:

  1. thanks ea,.,.,.,.,.
    moga selalu cerah hariharinya

    BalasHapus
  2. study pustakanya dari mana ya?

    BalasHapus
  3. trima kasih atas infonya...

    BalasHapus
  4. Pengertian yg lengkap dan tepat mengenai religi dari beberapa ahli..
    Thx postingan'a ;)

    #IndahnyaBerbagi

    BalasHapus